Social Media

Jiwa

Oleh

Agus Mulyadi
"Saya tak tahu benarkah syair hanya menghendaki dunia yang tak tertib."

Cerita dibuka dengan senja di negara yang kata orang ialah mempesona, sebuah wilayah di Asia Tenggara. Di lingkungan rumah-rumah berbatu bata warna terang penuh dengan pilar itu hidup semacam sebuah penduduk seniman, namun tempat itu tak pernah memproduksi karya seni apapun. Keistimewaannya hanya enak dipandang.

Tapi kita diantar untuk tak menyukai suasana disana. Terutama karena penghuninya. Ada orang bertampang penyair yang semenarik syair, tapi ia sendiri bukan penyair. Atau si Fulan yang berlagak filosof tapi sebenarnya sosok yang bisa membuat filosof merenung. Para menterinya menyengsarakan petani karena ketika panen mereka mengimpor beras. Juga dua orang yang selalu berusaha merebut kekuasaan dengan berbagai cara namun tanahnya sudah dijual kepada pihak asing. Para wanitanya menyatakan diri bebas, tapi suka memuji para lelaki dengan berlebihan. Orang yang memasuki atmosfer sosial tempat itu akan merasa seperti “memasuki sebuah komedi yang telah ditulis”.

Tokoh sentral di sini bernama Jiwa. Ia seorang penyair wanita berambut hitam yang digelung, dengan keriting kecil bak rembut perawan dalam lukisan seorang anak yang sedang menangis. Beberapa orang menggambarkan parasnya “lebar dan brutal” dengan dagu yang menjorok ke depan dan dengan perilaku seperti “sebuah campuran malaikat dengan monyet”.

Jiwa seorang anarkis dengan seorang keras. Ia gemar perkosa bahasa tentang seni sebagai kehidupan yang tak mengakui hukum dan tentang seni untuk tak mematuhi hukum. Baginya, seorang seniman identik dengan seorang anarkis. Ia melawan kekuasaan negara dan lembaga lainnya, ia bahkan bebas dari aturan seni sendiri.

Jiwa selalu didengar, tak seorang pun di negara itu yang membantahnya. Lantas Jiwa seperti berdiri kemudian berbicara di panggung di pasar “uqadz, tempat para ahli syair dari segala penjuru qabilah di masa Arab jahiliyah melantunkan syair-syair karya mereka, dan bagi syair-syair terbaik diberikan hadiah.

Namun saat itu untuk yang pertama kalinya banyak yang membantah, mereka mengamuk karena tidak terima syair tersebut, mungkin saja kurang indah untuk dapat dimengerti.
Kisah ini jadi tambah ajaib ketika akhirnya diketahui Jiwa meminta maaf kepada mereka karena pusing, kepala juga perut. Hingga ia mengutip perkataan dari manusia terbaik sepanjang masa, “lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair.”

Posting Komentar

0 Komentar