Social Media

Aksi GES 2 Des STAI Persis Bandung


Ciganitri, DIKSI– Lebih dari 20 mahasiswa yang menamakan aksinya sebagai Gerakan Suara 2 Desember (GES 2 DES) Menggelar aksi unjuk rasa di depan halaman utama STAI Persis Bandung. Mereka berdemo atas dasar cinta akan tegaknya “mimbar bebas” dalam kampus, dengan tuntutan utama yaitu meminta ketua bidang 2 akademik STAI Persis Bandung, untuk dibebas tugaskan dari jabatannya. Mereka berpendapat bahwa ia tidak layak lagi untuk memangku jabatan tersebut.

Aksi ini juga mengkritik kebijakan kampus yang mewajibkan setiap mahasiswa untuk mengikuti studi lapangan ke Jakarta untuk memenuhi penilaian mata kuliah tertentu, dengan berbentuk penggalangan dana bagi mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu untuk membayar.

Aksi gerakan suara 2 Desember ini (2/12) dimulai dengan pembacaan al-Qur’an surat Yasin dilanjut dengan pembacaan puisi, nyanyian pergerakan, aksi teatrikal dan penggalangan dana untuk membayar studi lapangan ke Jakarta.

Alif Akbar (22), koordinator lapangan aksi Gerakan Suara 2 Desember menyampaikan orasinya dan memberikan pandangan atas apa yang terjadi di kampus STAI Persis Bandung. “Aksi ini timbul karena keresahan, bukan untuk menghancurkan kampus.” Ungkapnya di tengah-tengah orasi.

Lebih lanjut lagi, begitu ditemui Diksi, Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan tafsir  (IQT) semester 7 ini menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk menciptakan kebencian, namun atas dasar cinta atas beliau dan juga kampus.

“Kami melakukan ini atas dasar cinta, cinta kami kepada kampus dan lembaga. Bukan atas dasar kebencian, bukan untuk memancing kerusuhan. ” Pungkasnya.

Di samping itu juga, ia menegaskan bahwa mereka tetap menghormati dan menghargai jasa-jasa yang telah diberikan oleh kepala bidang 2 akademik selama masa jabatannya.

“Kalau misalkan kami menimbang, menurut kami, di satu sisi kami tidak menafikan dan juga tidak menggugat pengorbanan-pengorbanan dan kebaikan-kebaikan yang telah dia dilakukan untuk memajukan kampus. Kita semua hormat dengan itu semua, tapi tidak dengan sikap-sikapnya yang represif, tidak dengan kewenangannya yang bukan bagian dari otoritasnya, dan tidak dengan tindak tanduknya yang bukan proporsinya.” Tuturnya.

Aksi ini yang menuntut kepala bidang 2 akademik untuk melepas jabatannya, tapi tidak dengan profesinya sebagai dosen pengajar.

Alif mengatakan, jika aksi mereka tidak mendapatkan respon dari pihak akademik, mereka akan mengadukannya langsung ke Pimpinan Pusat Persatuan Islam untuk ditindak lebih lanjut.

Sampai saat ini aksi Gerakan Suara 2 Desember ini masih terus berlangsung dan belum ada tanggapan resmi dari pihak STAI Persis Bandung perihal aksi ini. (Thoriq)

Posting Komentar

0 Komentar