DIKSI, (9/4/2018)- Beberapa hari kemarin publik dibuat terperangah oleh puisi seorang perempuan berkonde bernama Sukmawati. Syair-syairnya memicu banyak kontroversi. Kubu pro dan contra muncul ke permukaan, umat Islam pun merasa tersudutkan. Analoginya menggema, berhasil meresahkan bahkan membuat beberapa pihak bertindak hendak melaporkan ke ranah hukum.
Hari rabu (4/4/18), rupanya Sukmawati mendatangi kantor MUI, namun belum pasti apa maksud dari kedatangannya. Pengakuan Sukmawati saat Press Conference, syair yang dibacakanya tiada lain adalah pandangannya sebagai seorang seniman dan budayawati, murni sebagai karya sastra tanpa bertujuan menghina umat Islam. Dia pun tersedu-sedu menangis menyampaikan maafnya pada umat Islam. Kiyai Maruf Amin, selaku Ketua MUI pun menghimbau agar umat Islam memaafkannya. Apakah umat Islam sudah memaafkan Sukmawati? Sebagian pihak ada yang bersedia memaafkan, namun ada pula yang enggan memafkan mungkin karena terlanjur terluka oleh ketajaman lisannya.
Namun coba kita renungi, mengapa Sukmawati harus menganalogikan konde dengan cadar? Mengapa pula ia mengatakan bahwa suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu daripada adzan? Cadar dan adzan ini tentu identik dengan Islam, karena keduanya bagian dari syariat Islam. Maka wajar jikalau umat Islam resah dan marah. Apalagi mengenai cadar, yang baru kemarin menjadi isu hangat pasca keputusan rektor UIN Kalijaga mencabut hak 41 mahasiswi bercadar. Pengakuan rektor adalah dengan dalih bahwa Islam Indonesia ini moderat. Tidak jauh beda, Sukmawati pun mengatakan bahwa syair Ibu Indonesia ini ditulis sudah sejak lama dan pernah diterbitkan pada tahun 2006. Pernyataannya, syair ini dibuat atas cita-cita supaya masyarakat semakin memahami masyarakat Islam yang nusantara, yang kaya tradisi kebudayaan, yang berbhineka namun tetap tunggal ika.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud Islam moderat di negeri kita ini? Dan apakah cadar melanggar kemoderatan Islam? Sepengetahuan saya, Islam moderat itu adalah Islam yang menggambarkan kehidupan keagamaan yang tengah-tengah, tidak ekstrim dan tidak liberal, dan Islam yang cinta damai. Lalu mengapa harus cadar yang dipermasalahkan? Memang terkadang kita selalu memandang yang bercadar sebelah mata dan bahkan masih ada diantara kita yang men-judge bahwa cadar adalah ekstrim, teroris dan anggapan segala macamnya. Tapi, pernahkah kita mencari tahu dan mengkaji terlebih dahulu bagaimana Islam memandang cadar itu sendiri.
Mengenai cadar, di kalangan umat Islam sendiri memiliki pandangan berbeda-beda. Ada yang mewajibkan dan ada pula yang membolehkan. Tentunya perbedaan pandangan itu sesuai dengan argumen yang dipegangnya masing-masing.
Pengakuan Sukmawati, Syair Ibu Indonesia itu sebagai refleksi dari keprihatinan Sukmawati atas wawasan kebangsaan untuk menarik perhatian anak-anak bangsa agar tidak melupakan jati diri Indonesia yang asli. Pertanyaannya jati diri asli yang seperti apa yang dimaksud Sukmawati? Tidak salah kalaulah tujuannya ingin mengingatkan jati diri bangsa dengan budaya konde dan kebaya Ibu Indonesia pada zaman silam. Tapi mengapa justru dalam syairnya seolah membandingkan? “yang ku tau sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, lebih cantik dari cadar dirimu. Aku tak tahu syariat Islam, yang kutahu suara kidung ibu Indonesia lebih merdu dari alunan adzanmu”.
Jika benar Sukmawati hargai keanekaragaman budaya kita, tentunya dia tak akan membandingkan konde dengan cadar, dia tak akan bandingkan suara kidung Ibu Indonesia dengan adzan. Wanita berkonde meski terbuka aurat ia berkeyakinan untuk melestarikan budaya leluhurnya pada zaman dahulu. Begitu pula orang bercadar, mereka memiliki keyakinan berdasarkan dalil yang dipegangnya masing-masing. Lalu, adakah suara yang lebih merdu dibandingkan suara adzan? Bukankah adzan adalah panggilan istimewa Rabb kepada hamba-Nya untuk segera menunaikan shalat. Hati-hati, jangan salah mengartikan seperti Ganjar Pranowo yang menggunakan puisi Gus Mus “Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara”. Gagal paham sepertinya beliau, adzan bukan panggilan untuk Allah tapi untuk hamba Allah. Disyariatkannya adzan adalah untuk memberi tahu orang-orang beriman bahwa waktu shalat telah tiba agar bergegas menuju ke tempat ibadah.
Tentang permohonan maaf, apakah umat Islam sudi memaafkan? Himbauan Kiyai Maruf Amin untuk menerima maafnya memang mulia. Tapi apakah semudah itu? Bagaimana dengan nenek Asyani yang menyampaikan maaf, namun tidak dihiraukan dan tetap harus menjalani sidang. Bagaimana pula dengan nasib Alfian Tanjung yang belum bebas karena mengajak umat agar waspada terhadap PKI. Saya jadi bertanya, apakah hukum Indonesia masih ditegakkan berdasarkan keadilan?
Ada argumen, Kiyai Maruf Amin tidak adil dalam bertindak hukum. Saya kira jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Himbauan yang disampaikan Kiyai Maruf Amin agar umat Islam meaafkan Sukmawati adalah mulia. Bukankah Rasulullah pun menganjurkan agar saling memaafkan antara sesama? Apalagi menuduh Kiyai Maruf Amin ulama bayaran? Naudzubillah, jangan sampai mudah menuduh kalau belum ada data. Jangan sampai ikut mencela kalau belum jelas duduk perkara tapi hendaklah kita dahulukan tabayyun (chek and re-chek), terutama pada ulama. Kita semua tahu, Kiyai Maruf Amin ini adalah salah satu ulama ormas NU yang mengayomi masyarakat dengan kharismanya. Berhati-hatilah dalam berprasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12)
Berhati-hatilah dalam menerima berita, karena khawatir orang munafiq yang membawa berita. Orang munafiq adalah orang yang pura-pura Islam tapi ia gemar menghancurkan Islam. Perhatikan firman-Nya yang menganjurkan kita untuk tabayyun sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ ٦
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Segala gejolak jiwa beradu campur aduk menjadi satu dalam dada. Jiwaku bergetar, berkecamuk tak karuan memaknai fenomena ini. Namun, tiba-tiba haruku pun luruh, decak kagumku pun bangkit saat melihat ghirah umat Islam bangkit kembali. Perkataan Buya Hamka masih terpatri, menghujam ke dalam hati: “Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya satu yaitu kain kafan 3 lapis, sebab kehilangan ghirah itu sama dengan mati”. Lagi-lagi aku terpukau, Kantor Bareskrim MABES POLRI, Gambir menjadi saksi. Tertampak kembali ghirah nan indah dalam Aksi Bela Islam (6/4/2018). Gambaran bahwa umat Islam menuntut keadilan di negri pertiwi.
Tahukah? Selain memicu kontroversi, ternyata di balik fenomena ini banyak hikmah yang dapat kita petik. Dimana fenomena ini telah bangkitkan kembali ghirah kita selaku umat Islam, dimana fenomena ini telah menggertak kepekaan kita sehingga ribuan karya tercipta, telah memberanikan kita memperjuangkan indahnya syariat Islam yang kadang kita sendiri sering lalai menerapkannya. Ketika adzan berkumandang, kita sering menunda-nunda bergegas menuju kepada-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang tak hanya peka membaca kesalahan orang lain, tetapi peka pula membaca kesalahan dalam diri. Aamiin. (Fika)
0 Komentar