Social Media

Karena Tidak Ingin Mati

DIKSI
Oleh

Agus Mulyadi
Karena Tidak Ingin Mati- DIKSI 1 tahun, dan ini pastinya takdir yang selalu diperjuangkan. Bermula bukan dari paksaan suatu program kerja yang secara seremonial selalu ada perubahan untuk menjadi lebih baik. Tapi karena kepekaan untuk selalu memberikan yang terbaik. Hanya sekitar sepuluh mahasiswa, berdiskusi dari tempat yang tidak pasti. Mulai dari pinggir kali, warung kopi sampai teras kampus STAIPI. Kemudian lahir nama Pers Mahasiswa Diksi hasil dari perkawinan idealisme dan perjuangan yang melelahkan, bukan hasil dari pemerkosaan kepentingan perorangan atau suatu kelompok tertentu.

Lahir dengan perjuangan  kemudian berkembang dengan melelahkan karena kurangnya pengetahuan dan dana untuk modal berjalan yang dianggap merupakan tantangan serius. Terbukti dengan fluktuasi karya yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ditambah lagi dengan  banyaknya teman yang berguguran karena merasa tidak sanggup lagi memperjuangkan.

Hal tersebut memang suatu alasan dari ketidakmampuan, justru jika ukuran untuk berkarya adalah uang, kedudukan dan kemewahan hidup, mungkin akan menjadi pelemahan idealisme itu sendiri yang akan mewarnai hidup dalam kecengengan nantinya. Tanpa sokongan dana dari pihak akademik, namun beruntung masih ada beberapa orang yang sempat peduli dengan adanya pers mahasiswa dalam hal ini yang berjasa dalam penerbitan beberapa bulan lalu.

Dalam penerbitannya, pers mahasiswa diharuskan untuk independen. Juga didalamnya harus ada gerakan intelektual atau pemikiran, respon terhadap persoalan lingkungan hidup. Tampilannya tidak pucat, kering dan datar sedatar aktivitas mahasiswa kekinian yang bergelamor dengan kehidupan mewah. Raut wajahnya tidak  pucat pudar, selalu ada cahaya kegigihan dan semangat untuk berubah kepada hal yang lebih baik.

Pers Mahasiswa Diksi selalu mengidealkan hal tersebut, dengan semangat untuk kritis dan keberanian untuk mengungkap ide tanpa tendensi dan intervensi dari pihak lain, itulah yang harus dipertahankan.

Namun, Pers mahasiswa bisa menjadi oposisi atau sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa.

Setelah ada penyadaran posisi dan daerah permainan, pers mahasiswa bisa bermain ke daerah yang lebih berani. Misalnya dengan mengkritisi sistem pendidikan kapital yang menghasikan sarjana-sarjana pekerja dan bukan sarjana pemikir. Sistem ini menempatkan mahasiswa sebagai obyek yang dipaksa untuk menyuplai kebutuhan pasar. Dari sini, pers mahasiswa bisa melakukan perselingkuhan lagi dengan gerakan mahasiswa untuk menentang segala kebijakan kampus yang menghasilkan mahasiswa apatis dan hedonis. Namun perlu diingat, pers mahasiswa jangan sampai terjebak dalam kepentingan politik praktis oknum mahasiswa ataupun aparat kampus. Pers mahasiswa harus konsisten dengan independensinya. Dan intervensi ke dalam kehidupan pers harus diharamkan.

Dalam usia satu tahun ini, memang tidak mudah untuk bertahan hidup. Kurangnya berbagai hal yang mendukung untuk kemajuan, juga pengalaman. Namun rasanya hal tersebut dapat dikalahkan dengan kemauan dan kerja keras.

Dengan internalisasi beberapa minggu ini, karena dianggap perlu, sekitar empat belas mahasiswa yang peduli dengan pergerakan pers mahasiswa ini terus berbenah memperbaiki segala celah kekurangan, bergerak, bercengkerama dengan kata dan tidak ingin diam, kerena tidak mau mati.

Posting Komentar

0 Komentar