“Saya mengetahui di medsos bahwa ada aksi penggalangan dana saat demo digelar. Penggalangan dana itu tertulis diperuntukan bagi mahasiswa yang tidak mampu membayar. Dari situ, saya menyimpulkan bahwa program saya sepertinya sangat memberatkan mahasiswa. Maka, ya saya batalkan”, ujar dosen mata kuliah PPKN di jenjang semester 1.
Karena penggalangan dana tersebut, Nunung merasa seolah telah melakukan kesewenang-wenangan terhadap mahasiswa dan Dia merasa aksi penggalangan dana itu telah menghina dirinya selaku pengganggas program.
Dosen PPKN ini pun menganalogikan kasus ini kepada sanksi yang diberikan PSSI kepada Persib. Bobotoh pun berinisiatif melakukan penggalangan dana dalam membantu Persib menuntaskan hukuman dari PSSI.
“Saya memohon maaf yang sebesarnya. Saya menyadari bahwa rencana itu adalah bentuk perlakuan saya yang semena-mena sebagai dosen PPKN. Walaupun niat awalnya, saya hendak memberikan pengalaman kepada mahasiswa tentang lembaga-lembaga negara seperti Istana Presiden, MPR, Museum DPR RI. Lalu, dilanjut kita refreshing ke TMII”, ujarnya.
Dia pun mengutarakan bahwa biaya yang yang dipungut 175 ribu per orang itu sudah dikatakan terjangkau. Bisa untuk tiket, makan dan snack.
Yang disayangkan olehnya terhadap para penggalang dana tersebut yakni mereka tidak menginformasikan terlebih dahulu akan diadakannya penggalangan dana, padahal setidaknya harus bisa diinformasikan.
Dia pun menyampaikan kesalutannya akan salah satu mahasiswa KPI yang berbicara tatap langsung padanya. Mahasiswa itu seorang marbot. Ia izin tidak bisa ikut ke Jakarta karena harus beres-beres masjid, harus mengimami. Dan gaji jadi marbot itu pun biasa dia gunakan untuk membayar spp kampus. Sebab berat perizinan pada DKM dan berat dari segi pendanaan, maka Nunung pun memahami dan mengaku mendiskusikannya dengan dosen yang lain.
“Saya cari solusi tepatnya untuk dia karena dia sudah mau berkomunikasi pada saya”, ungkapnya.
Meskipun begitu, dia berlapang dada memaafkan para penggalang dana, meskipun mereka tidak meminta maaf kepadanya, “Saya sudah memaafkan mereka meskipun mereka belum memintanya. Namun, kalau mereka tidak mau berkomunikasi, saya pun tidak akan berkomunikasi”, ujarnya.
Akhirnya, studi lapangan itu dibatalkan walaupun 90 persen mahasiswa berminat ikut. (Fika Fitria)


0 Komentar