Social Media

Kala Senja

Oleh:

Vina Rosalina
Di daerah Cibeber-Cianjur, terletak sebuah kampung yang sangat indah. Gunung hijau menjulang , terhamparnya ratusan hektar sawah, terbentangnya padi bak lautan di alam bumi. Uh… menyejukan tatapan mata orang yang memandang. Orang-orang biasa memanggil dengan sebutan Kampung Cijengkol. 90% rumah di kampung tersebut dibangun begitu sederhana. Tidak terlalu padat layak keju Prancis dan tidak begitu longgar layaknya hati seseorang yang sedang kesepian. Penduduk di sana kebanyakan berprofesi sebagai petani. Biasanya mereka menjual setengah hasil panennya ke pasar dan sebagian lagi disimpan sendiri atau digunakan sebagai alat barter ke warung-warung.

***

Matahari telah menarik diri, mengizinkan muadzin mengumandangkan panggilan yang mulia. Tak lupa diiringi gradasi warna oranye ke merah-merahan yang mulai terbentang di ufuk barat. Lengkap sudah bayangannya mengindahkan wajah langit.

Di sebuah pohon nyiur, di antara 2 lautan padi yang begitu aduhai, tampaklah seorang pemuda berusia 18 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke hamparan sawah yang indah membentang. Begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam Cijengkol. Pemuda tersebut bernama Muhammad Yasin As-Silimani, seorang blasteran Cianjur dan Sleman. Pemuda tersebut dikenal sebagai orang yang ‘alim, taat beribadah, hormat pada orang tua dan selalu menolong sesama.

“Sin, sudah bertemu Tuhankah engkau?” tanya Abah Zainuddin.

“Sudah, Abah. Sejak permulaan adzan berkumandang. Abah kan yang selalu ajarkan Yasin agar shalat di awal waktu,” ujarnya.

“Baiklah. Sedang apa kamu di sini, nak? Kebingungan tampak sekali ada di raut wajahmu,” sahut Abah Zainuddin.

Suasana mendadak hening kala itu. Belum tampak sahutan yang terlontar dari mulut Yasin. Yang terdengar hanya bunyi jangkring yang bersahutan.. Krik krik krik..5 menit kemudian, Yasin masih tetap terbungkam. Hatinya bergejolak. Haruskah dilontarkan kebingungannya ataukah disimpan dengan eloknya di dalam hati yang terdalam.

“Baiklah, abah tidak memaksamu untuk menceritakan semua. Tapi jika ada hal yang ingin kau ketahui, abah akan selalu ada untukmu,”

“Abah, tadi pekerjaanku berantakan. Mengajarpun kacau. Anak-anak terbengkalai. Rencanaku berantakan.”

“Tiap-tiap kamu direncanakan mulia. Allah tidak pernah menciptakan yang sia-sia. Maka, jika ingin sampai kepada kemuliaanmu, bersikaplah seperti emas. Bersiaplah untuk muncul atau ditemukan dengan diruntuhkan dari tanah asalmu, digali, diayak, dipisahkan, kemudian ditempa dengan panas dan pukulan. Jangan terus hidup dengan kebaikan yang kamu lekatkan pada lumpur kotor yang terus membebani  dan melumuri kilaumu.”

“Abah, aku lelah bekerja. Aku lelah mengajar. Aku lelah akan semua. Tak ada hasil yang kudapat,” Yasin menjawab dengan nada sedikit tinggi dari biasanya.

Abah Zainuddin hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Yasin. Tak lama kemudian Abah Zainuddin kembali sambil membawa beberapa helai Ilalang. Ilalang tersebut dilihatnya lalu diberikan pada Yasin.

“Belajarlah dari Ilalang, nak!”

Yasin tambah kebingungan. Ilalang kerap jadi gulma di lahan pertanian. Lalu mengapa harus belajar dari Ilalang?

“Kamu tak juga paham akan hal itu? Baiklah akan Abah jelaskan sedikit. Moga kamu paham akan hal ini. Abah pernah membaca di suatu buku. Tapi Abah lupa judulnya. Penyataan ‘Allamah Abul A’la Mududi, seorang ‘ulama dan cendekiawan besar di Pakistan, beliau mengatakan begini ‘Jika perjuangan yang kita hadapi dapat kita ibaratkan membabat ilalang ribuan hektar, sedangkan kita hanya mempunyai sebilah pisau, lakukanlah itu. Jangan menunggu engkau punyai traktor’.”

“Tapi hasilnya akan lama sekali, Abah!” sahut Yasin.

“Eits, gunakan pisau tersebut dengan sebaik-baiknya, nak! Tunjukkan pada Allah bahwa engkau sungguh-sungguh dalam bekerja. Engkau memanglah benar. Membabat ilalang dengan pisau, pastilah hanya beberapa meter saja dalam sehari. Engkau babat depannya, lalu lusa.. ilalang di belakangmu tumbuh kembali. Engkau babat yang belakang, yang depan tumbuh pula. Engkau membabat yang kiri, yang kanan merimbun lagi. Dan engkau membabat yang kanan, eh yang kiri tumbuh menjadi. Mungkin seperti itulah hasil kerjamu..”

Yasin merunduk, mendengarkan semua omongan yang terlontar dari mulut manis Abah Zainuddin.

“Nak, apapun hasilnya, tetaplah kerjakan! Allah yang Maha Tahu sedang melihatmu. Jika Allah melihat engkau bersungguh-sungguh menggunakan pisaumu, mungkin esok atau lusa, Allah ganti pisaumu dengan golok. Ingat, nak! Gunakan golokmu dengan sebaik-baiknya dan bersungguh-sungguhlah dalam bekerja. Jika engkau sudah pandai menggunakan golok, mungkin Allah akan ganti golokmu dengan traktor.”

Yasin menarik nafas dalam, seolah menyesali perkataan yang telah terlontar tadi. Agaknya benar, ada baiknya berfikir matang sebelum melontarkan kata yang hanya berujung pada penyesalan nantinya. Yasin pun menengedahkan wajah, melihat bintang dan bulan yang masih koko berdiri di langit malam, walau kadang hujan malam menghalangi mereka agar tidak menampakkan diri.

“Nak, apa yang kamu dapatkan?” tanya abah.

“Penyesalan.”

“Selain itu? Abah tahu, engkau dapati ibrah selain daripada penyesalanmu.”

“Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh” sahut Yasin.

“Masih ingat firman-Nya?”

dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Begitu merdu lantunan ayat suci Al-Qur’an yang abah lantunkan. Hingga tak kuasa, air mata berderai deras di pipi Yasin.

“Tak usah engkau menangis. Bangkitlah nak!” tegas abah sambil menepukkan pundak Yasin.

“Aku harusnya bersyukur ya Abah. Sekecil apapun nikmat yang diberikan Allah padaku.”

dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

“Memanglah harus begitu, nak,” sahut abah sambil tersenyum.

Allahu akbar, Allahu Akbar….Adzan Isya pun menggema di alam raya.

“Ayo bangun dan lekas beranjak dari ketermenunganmu itu. Tunaikan segera shalat Isya!”, ajak Abah.

“Ayo, Abah. Mari!” sahut Yasin.

Malam ini begitu syahdu bila dirasa.  Yasin dan Abah Zainuddin pun segera menyudahi obrolannya dan segera mengambil air wudhu dan dilanjutkan shalat berjama’ah sebagai langkah khidmat pada Sang Maha Rahmat.

Posting Komentar

0 Komentar