Social Media

Kontroversi Puisi Sukmawati : Provokasi atau Realita?


Baru-baru ini, umat Islam di Indonesia mengernyitkan dahinya atas provokasi berbau SARA yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri, putri dari Soekarno sekaligus adik kandung dari Megawati Soekarnoputri. Pasalnya, salah satu tokoh politik tanah air ini membacakan puisinya berjudul “Ibu Indonesia” yang menyinggung unsur-unsur agama Islam.

Di dalam puisinya, Sukmawati membandingkan suara kidung wanita dengan suara adzan, lalu mengungkapkan bahwa sari konde lebih indah dibandingkan balutan cadar, dan poin-poin lainnya yang membuat netizen muslim indonesia marah.

Beberapa tokoh politik, hukum, dan Islam pun buka suara perihal ini. Kapita Ampera, pengacara Habib Rizieq, menduga bahwa di dalam puisi Sukmawati terdapat pelanggaran hukum. Menurutnya, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan adzan dengan Kidung Pancasila. Azan yang merupakan panggilan untuk ibadah, lanjut Kapitra, tidak bisa dibandingkan dengan hal lain.

“Jangan banding-bandingkan azan. Azan itu panggilan ibadah,” tutur Kapitra.

Fadli Zon, Waketum Gerinda menyayangkan sikap Sukmawati yang memasukkan isu sensitif seperti SARA di dalam puisi karangannya.

“Seharusnya semua yang berbau perbedaan itu tidak bolehlah dijadikan sebagai (sarana) menyudutkan orang lain. Apalagi yang sensitif, seperti persoalan agama, suku, dan sebagainya. Itu kan sangat sensitif,” kata Fadli di TPU Karet Bivak, Jl Karet Pasar Baru Barat, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Felix Siauw, yang merupakan seorang da’i kondang, mengecam puisi Sukmawati dan membuat puisi balasan berjudul, “Kau Tidak Tahu Syariat Islam”.

“Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti,” demikian kutipan puisi Ustaz Feliix yang ia posting melalui akun Facebook-nya, Ustadz Felix Siauw, Senin (2/4).

Menanggapi semua kritik dan kecaman yang diterima, Sukmawati Soekarnoputri mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan merupakan realita yang terjadi di Indonesia.

“Lho Itu suatu realita, ini tentang Indonesia. Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita,” tuturnya.

Sukmawati lalu menanggapi tuduhan pembanding-bandingan azan dengan kidung ‘Ibu Indonesia’ yang dipersoalkan Kapitra Ampera. Puisi yang dibacakannya disebut sebagai sebuah opini.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati. Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar,” tutur dia.

Jadi, apakah puisi “Ibu Indonesia” merupakan bentuk provokasi atau hanya sekedar penyampaian opini semata?

Posting Komentar

0 Komentar