Oke, kita sepakat bahwa gak ada yang namanya anak bodoh, yang ada ialah anak malas. Setuju, kan?
Baiklah, sekarang kita ganti premisnya: Malas itu adalah fitrah, bukan sikap, sifat, maupun karakteristik. Logis, atau mengada-ada?
Sebelum saya menjelaskan panjang lebar sepanjang curahan hatimu di status media panjat sosial, saya mau menegaskan bahwa premis di atas bukan semata-mata untuk menjustifikasi perilaku ngedul yang lazim menjangkiti banyak anak remaja saat ini. Dikit-dikit mager, dikit-dikit mager, Kebanyakan jadi makan pager.
Ketahuilah, bahwa entitas “malas” ini sudah lama terkandung dalam jati diri kita sebagai manusia.
Bahkan, saya berani menyatakan bahwa dzat “malas” ini sudah dari dulu diwariskan oleh Nabi Adam AS.
Coba kita pikirkan, kenapa Nabi Adam AS dan Siti Hawa termakan rayuan Syaithan untuk memakan buah Khuldi?
Karena mereka berdua malas untuk menahan hawa nafsunya. Mereka berdua malas menaati perintah Allah SWT dan setelah mereka berdua memohon taubat, mereka menyadari rasa kemalasannya untuk teguh pada ketaatan.
Terkesan dipaksakan? Terserah, ini pendapat saya tentang “malas”. Malas adalah sebagian dari fitrah manusia. Titik.
Lantas, jika memang malas adalah fitrah, apa bedanya?
Ada bedanya. Malas itu menjadi salah bukan karena si pelaku bersikap malas pada saat itu juga. Itu namanya sifat atau karakter dan rasa malas tidak bekerja seperti itu.
Tapi ketika rasa malas itu sudah menjadi “Sahabat” bagaikan kepompong untuk diri kita, nah disitulah penampakan hakiki dari “malas”: fitrah manusia yang berperan sebagai kutukan bagi jiwa insan yang malang.
“Ah, males euy. Saya mah orangnya malesan.”
“Uh, hoream. Nanti lagi we, atuh!”
Di atas merupakan contoh frasa yang biasa diucapkan oleh seseorang yang sudah menjadikan “malas” sebagai pasangan hidupnya. Ngenes sekali, bukan?
Malas itu lebih dekat dengan keseharian kita dibandingkan sifat, sikap maupun karakter kita sendiri. Kita terbiasa mengubah tabiat kita sesuai lingkungan. Namun fitrah manusia tidak demikian. Fitrah sudah terintegrasi dengan jiwa kita. Jika ditahan, maka dia akan berontak. Jika dicabut atau dibinasakan, maka rasa kemanusiaan akan hilang jua.
“Malas” mustahil untuk dibunuh. “Malas” hanya bisa ditekan. Dipaksa ngendok di pojokan paling jauh di negeri Wakanda. Kalau dibunuh, matilah jiwa.
Karena itu, peliharalah rasa malas. Jangan dikasih keluar dari kandang. Beri makan “malas” dengan mengasihani diri sendiri di waktu yang tepat.
Misalkan, ketika saya beres manggul enam puluh karung beras untuk diantarkan ke kuvukiland, lalu kemudian aku menghadiahi diriku dengan berendam di dalam kawah gunung semeru, disitulah kebutuhan untuk malas akan terpenuhi.
Sekian tulisan ini, saatnya bagi saya untuk memberi makan “malas” di dalam tubuh dengan beristirahat sejenak.


0 Komentar