Social Media

Geliat Indonesia pada Tahun Politik

Oleh

Fakhri Fauzan Azhari
Baru-baru ini kita digegerkan dengan pernyataan bahwa Indonesia kemungkinan bubar pada tahun 2030. Pernyataan demikian disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam safari politiknya. Bersumber dari karangan  fiksi ilmiah, Ghost Fleet karangan PW Singer dan August Cole. Namun, meskipun berupa karangan fiksi dan menuai kontroversi, hal ini tidak bisa diabaikan karena buku tersebut berlatar belakang masa depan dan menggambarkan sebuah skenario.

Menurut mantan Danjen Kopassus tersebut, meskipun mengacu kepada karangan fiksi ilmiah, potensi itu tetap ada lantaran elit Indonesia saat ini tidak peduli 80 persen tanah Indonesia dikuasai oleh satu persen rakyat. Beliau pun menuturkan ketidaksukaan kepada elit politik sekarang lantaran banyak yang menipu, bahkan dinilai menganut paham neoliberalisme.

Sontak pernyataan itu langsung direspon oleh sejumlah pihak. Salah satunya oleh Dirtektur Eksekuitif Indo Barometer, Muhammad Qodari, beliau menilai kasus ini menyangkut dengan masalah politik. Karena tahun ini merupakan tahun politik serta menjelang pilpres. Beliau menilai, gaya komunikasi politik Prabowo Subianto meniru Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu.

Isu itu memiliki kesamaan dalam mempertentangan kalangan atas dan bawah dengan membahas soal kesenjangan, dan soal ancaman dari luar negeri. Apabila ketakutan dan pesimisme ini terus berkembang, maka pemilih akan cenderung memilih Prabowo dibanding dengan calon lainnya.  Ditambah dengan penggunaan media social di Indonesia sangat masif. Isu kesenjangan dan pesimisme sangat mudah menyebar. Lalu dari kedua hal itu munculah ketakutan.

Sisi lain, wakil ketua umum partai Gerindra Fadli Zon membantah penilaian itu. Menurutnya apa yang disampaikan Prabowo merupakan kenyataan yang terjadi serta merupakan realitas bukan ancaman, mestinya pernyataan itu disikapi dengan serius. Menurutnya, apa yang disampaikan Prabowo itu mewakili keadaan masyarakat saat ini, misalnya soal ketimpangan, kemiskinan.

Presiden Indonesia, Joko Widodo, ikut menanggapi pernyataan Prabowo ini. Menurutnya, menjadi keharusan agar senantiasa optimis menjadikan negara ini lebih besar. Harus tahan uji, tahan banting, harus kerja keras dan berusaha, jangan pesimis.

Selain itu, isu hangat pun bertambah dengan tagar #2019 Ganti presiden yang ramai di media sosial dan tersebar dalam bentuk desain kaos. Sang presiden pun langsung menanggapi hal itu. Beliau mengatakan, “sekarang isunya di ganti, isu kaos, #2019gantipresiden, masa kaos bisa ganti presiden? Hanya ada dua hal yang bias mendorong pergantian presiden yakni rakyat dan Tuhan.”

Hal ini pun menyulut persepsi, tagar itu merupakan gerakan untuk menghimpun suara pemilih oposisi  pada pilpres mendatang. Namun, apakah itu saja sudah cukup, Ini bisa dibilang merupakan strategi  gerakan resmi dari kubu oposisi karena langsung disuarakan ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Kita tau bahwa PKS merupakan koalisi partai Gerindra yang dipimpin sang mantan Danjen kopassus Prabowo Subianto. Hal ini jelas sedikit membuka tabir terselubung yang memungkinkan bahwa kubu oposisi menginginkan presiden baru dan yang dimaksud adalah Prabowo. Diangini oleh isu Indonesia bubar, dan disaat itulah sosok dewa penyelemat akan ada di pundak seseorang yang dikira mampu. Tapi​, apakah gerakan #2019gantipresiden ini efektif untuk mencapai tujuannya?

Posting Komentar

0 Komentar