Pemilu raya kampus sebentar lagi digelar. Paslon-paslon bersiap menyolidkan barisan. Musyawarah, kongres, dan konvensi untuk mengganti pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) telah selesai. Usai lengsernya pengurus BEM 2017-2018, kini mahasiswa akan memilih kader terbaiknya untuk duduk di kursi kepresidenan.
Kampus menjadi tempat belajar berdemokrasi. Bila masyarakat berdemokrasi dalam pemilihan umum (memilih presiden dan wakilnya serta anggota DPR), maka mahasiswa di kampus berdemokrasi lewat pemilu raya mahasiswa.
Pemilu raya mahasiswa di kampus STAI Persis Bandung menjadi waktu sibuk bagi sebagian mahasiswa. Karena ini merupakan konsep baru yang diterapkan, lain dengan tahun-tahun sebelumnya melalui kongres dan sidang pleno.
Pemilu raya mahasiswa tak kalah dengan pemilu nasional, baik dalam publikasi, lobi, maupun masa pengusung. Layaknya pemilu atau pilkada, dibeberapa sudut kampus dipenuhi foto-foto paslon yang mencalonkan diri menjadi presiden mahasiswa dan wakilnya.
Tak beda dengan politisi, mahasiswa mencoba mengeksplorasi diri dengan membuat visi dan misi untuk menarik perhatian pemilih.
Menerapkan kampus sebagai miniatur perpolitikan negara, diadakanlah lembaga eksekutif, KPUM, dan masa pengusung.
Tapi, seberapa perhatiankah mahasiswa terhadap perpolitikan kampus?
Ternyata, mahasiswa yang menaruh perhatiannya adalah mereka yang aktif dalam organ-organ kampus, baik ekstra maupun intra. Mereka yang kurang sadar terhadap perpolitikan kampus biasanya disebut sebagai The Floating Mass atau massa mengambang dan mereka inilah massa terbesar dalam kampus ini.
Biasanya apologi mereka tidak tenggelam dalam perpolitikan kampus 'politik itu pusing, dunia yang hitam dan kejam, sikat sana sikut sini, memakai cara apapun, yang penting keinginannya sampai'. Begitulah.
Apologi mereka memang tidak salah dan tidak sepenuhnya benar. Apa yang mereka khawatirkan memang ada dan kerap terjadi. Tapi itu semua kembali kepada kita, bagaimana kita menyikapinya dengan benar dan bijaksana, syukur-syukur kalau kita bisa mengubahnya.
Menurut Aristoteles, manusia adalah zon politicon. Apapun tindakannya, takkan lepas dari nilai politik. Sikap untuk tak berpolitik pun merupakan tindakan politis. Bagaimana tidak, sikap golput tentu akan melahirkan kelas baru yang secara tidak langsung diakui keberadaannya. Jadi apapun tindakan anda, anda tetap berpolitik.
Agenda dari pemilu raya yang akan datang adalah memilih presiden mahasiswa baru yang akan memimpin seluruh mahasiswa dari berbagi jurusan.
Maka dalam pemilihan presiden mahasiswa baru pada pemilu raya kampus mendatang, para mahasiswa diharapkan benar-benar menyeleksi paslon yang akan menjadi pemimpin mereka, kenali kepribadiannya pula. Tak hanya ikut-ikutan memilih atau membeo karena perintah dari orang yang mereka percayai atau dekat. (Fakhri Fauzan Azhari, -ed)


1 Komentar
*mantaps kawan😊
BalasHapus