Social Media

Kampus Bojongsoang Tapi Bukan Telkom




“Kuliah di mana, a?”
“Di Bandung bu, daerah bojongsoang.”
“Ooh, di STT Telkom ya?”
“Bukan bu, di STAIPI.”
“STAIPI? Bukannya di Bojongsoang adanya Telkom?”
“…”

Suka atau tidak suka, ketika orang-orang umum ditanya perihal kampus apa yang terletak di daerah Bojongsoang, maka mereka dengan yakin akan menjawab STT Telkom, atau kalau sekarang namanya sudah ganti jadi Telkom University, yang kadang disebut Telyu juga oleh remaja milenial setempat.

Padahal, Bojongsoang itu tidak sesempit daun kelor. Tepat setelah Transmart Buahbatu, ada pertigaan ke arah timur yang menghubungkan Jalan terusan Buahbatu dengan Jalan Ciganitri. Sekitar satu kilometer lebih seratus meter masuk ke dalam, terdapat kawasan Sekolah tinggi yang beriringan dengan kawasan pondok pesantren Persis nomor 84 Ciganitri, dan juga berseberangan dengan ruko-ruko komersil. Sekolah tinggi tersebut bernama STAIPI Bandung.

Sebenarnya, membandingkan antara Sekolah tinggi berbasis ilmu keislaman dengan perguruan tinggi swasta berbasis umum tidak ada gunanya. Keduanya jelas berbeda satu sama lain. Yang satu dikelola oleh Jam’iyyah, yang satu lagi oleh korporat BUMN. Yang satu hanya terkenal di kalangan maupun keluarga Persis, yang satu lagi dikenal oleh hampir seluruh penduduk Bojongsoang dan sekitarnya. Tidak Apple to Apple istilah kerennya.

Eits, sebelum anda sebagai pembaca men-judge saya insecure, izinkan saya untuk mengklarifikasi. Poin-poin yang saya jabarkan di atas, saya yakin akan diamini oleh sebagian besar mahasiswa yang bersangkutan. Lha wong emang sudah kodratnya kampus kecil, yang insya Allah sampai kini masih berusaha untuk berbenah menjadi Sekolah tinggi yang lebih diperhitungkan di mata khalayak umum.

Memang, STAIPI tempo lalu memenangkan peringkat 3 dari 127 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) oleh Koordinator Persatuan Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (KOPERTAIS) wilayah dua Jawa Barat dan Banten. Tapi toh, anggapan masyarakat bahwa kampus Bojongsoang itu Telyu memang benar adanya.

Hal itu membuat beberapa mahasiswa STAIPI Bandung, secara tidak langsung merasakan sensasi inferiority complex ketika ditanya mereka kuliah di mana. Daripada dijawab jujur yang nanya malah bingung atau awkward, mending tidak usah nyebut sekalian atau pura-pura mengiyakan mereka sebagai mahasiswa Telyu.

Tapi, pada akhirnya, ngapain juga sih kita merasa inferior? Kampus kita normal-normal saja, kok. Perkuliahannya jalan, aktivitas mahasiswanya ada, proses wisuda pun legal tanpa kendala. Bahkan harusnya kita bangga karena setidaknya, kampus kita ada beberapa keunggulan yang –setidaknya- dapat dinikmati oleh partisipannya.

Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan kampus lain, STAIPI itu lebih kecil resiko konfliknya baik antar mahasiswa ataupun antara mahasiswa dengan civitas akademiknya, karena rata-rata para penghuninya berada dalam naungan jam’iyyah yang sama, yaitu Persis. Secara teori, semakin sedikit atau semakin homogen himpunan masyarakat pada satu tempat, semakin sedikit chance terjadinya gesekan antar kelompok ataupun individu. Tentunya kita ingin ngampus dengan damai dan tentram, bukan?

Selain itu, kampus ini hanya memiliki lima fakultas dan lima jurusan. Pengelolaannya jelas lebih mudah dibandingkan kampus lain yang bisa menaungi lebih dari puluhan jurusan yang berbeda. Pembentukan dan gerakan BEM lebih mudah karena jumlah massa yang jelas sedikit dan mudah terjangkau jika dibandingkan dengan kampus lain yang mau mengkoordinir mahasiswa sejurusan saja pusingnya bisa bikin kepengen main gasing.

Contoh yang terakhir, mahasiswa STAIPI itu sudah sejatinya agamis, militan dan bersahaja. Haus akan kajian-kajian pemikiran Islam yang luhur dan berbudaya, tapi tetap kritis dan berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mana mungkin mahasiswa STAIPI tercemari paham yang aneh-aneh seperti paham PKI, ya kan? ya kan?

Sepertinya, saya juga harus berhenti membandingkan kampus ini dengan kampus tetangga dan berhenti ngurusin pandangan orang lain. Kampus kita sudah spesial dengan ciri khasnya sendiri, kok. Yang penting kuliahnya serius dan tidak telat membayar SPP, sudah itu saja.

( IR )

Posting Komentar

0 Komentar