Social Media

Nurmawan Klarifikasi Soal Fasilitas Kampus Selama Pandemi Covid-19

DIKSI - Ketua STAI Persis Bandung, Nurmawan, menanggapi isu fasilitas kampus bagi mahasiswa dan dosen selama perkuliahan daring yang selama ini menjadi tanda tanya. Sabtu, (29/6/2020)

Menurutnya, pihak kampus tidak memberikan fasilitas tambahan selama masa perkuliahan daring dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

"Ada beberapa mahasiswa yang menanyakan itu juga, tapi bukan berarti kita tidak merespon. Kita baru tiga hari yang lalu merapatkan itu. Ada berbagai usulan dan pertimbangan yang sudah dirapatkan, tapi rasionalisasinya masih sulit untuk dilakukan."

"Kalau fasilitas yang dimaksud biasanya berupa kuota internet, sampai saat ini dari kampus lain belum terealisasi juga. Tidak semudah itu mendistribusikan kuota secara merata kepada mahasiswa yang memang membutuhkan."

"Kalau fasilitas yang dimaksud adalah uang, boleh jadi dengan sistem pembelajaran daring ini mahasiswa justru lebih efektif dari segi pembiayaan. Tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk transportasi ke kampus, misalnya."

Ketua STAIPI Bandung ini juga menyatakan perlu ada perbandingan biaya lebih lanjut antara pembelajaran daring dengan biasa.

"Kalau dengan melalui daring ini biaya mahasiswa dirasa menjadi semakin membengkak, perlu dianalisa lagi betul atau tidaknya. Jika dibandingkan dengan pembelajaran biasa yang perlu biaya transportasi malah jatuh lebih besar, maka wajar kalau kita putuskan untuk tidak memberikan fasilitas tambahan."

Lebih lanjut lagi, Nurmawan menegaskan sejak dulu STAIPI Bandung tetap terbuka menerima permohonan dan keluhan biaya dari mahasiswa yang memang tidak mampu menyelesaikan proses administrasi.

"Adapun ketika ada persoalan di biaya, kan dari dulu kita terbuka untuk permohonan keringanan. Tidak boleh ada mahasiswa yang gagal melanjutkan kuliah karena persoalan biaya. Selalu ada kebijakan untuk memberikan keringanan, penangguhan, dan kebijakan lain untuk mahasiswa-mahasiswa yang memang membutuhkannya. Tapi bukan berarti bebas ya, mahasiswa tetap harus mencari solusi lain seperti permohonan tenggang waktu dan sebagainya."

Di sisi lain, Nurmawan tidak menghendaki mahasiswa yang memang tergolong mampu mengabaikan kewajibannya dalam membayar administrasi.

"Kita tidak menginginkan ada mahasiswa mampu yang mengabaikan kewajibannya. Kalau seperti itu, berarti kita 'kan tidak mendidik. Kita tidak mau seperti itu." Pungkasnya

(IR/DM)

Posting Komentar

0 Komentar