Perkembangan zaman kian pesat melaju. Ia bergerak tak karuan, melibas ketertinggalan dan kejumudan. Melampaui berbagai generasi, menciptakan inovasi dan akselerasi. Kemajuan ini ditemukan, diciptakan, digali dan dipelajari, ia tidak berangkat dari ruang hampa yang kosong. Tidak melalui mantra “Abrakadabra”, apalagi menunggu instruksi “Dewi Fortuna”.
Berhadapan dengan situasi ini tentu perlu berbagai instrumen
yang cukup. Siap tidak siap, mau tidak mau, untuk bisa hidup dalam situasi ini
, kita perlu adaptasi dan “memantaskan” diri.
Kawan-kawan muda, generasi A dan Z terpisah sangat jauh.
Pemuda memiliki pikiran-pikiran yang sesuai dengan zaman ini. Gen-A sudah tidak
relevan dalam situasi sekarang. “Old system doesn't work”. Karena itulah, perlu
orang-orang muda untuk bisa berhadapan dengan zaman ini. Tetapi, betulkah bahwa
sistem yang dibangun anak-anak muda adalah sistem terbarukan yang siap bertarung
di era 4.0 ini ?
Sektor pendidikan kita misalnya guru-guru, dosen-dosen, para
pengajar yang mayoritas adalah generasi terdahulu. Seberapa yakinkah kita bahwa
mereka tidak mengajarkan ilmu yang mereka pelajari semasa kuliah 20 tahun ke
belakang ? Seberapa yakinkah kita bahwa ilmu yang mereka sampaikan adalah ilmu yang
terbaharukan ?
Yakinkah kita bahwa ilmu yang mereka sampaikan sudah usang?
Yakinkah kita bahwa ilmu pengetahuan memperbaharui dirinya setiap detik? Jadi,
sebagai generasi Z apa bedanya jika ilmu yang kita terima adalah ilmu di
generasi A 30 tahun ke belakang, yang memang tertinggal jauh di peradaban hari ini. Tidak
ada cara lain, selain kita sendiri yang "memotong" ketertinggalan ini
semua. Memperbaharui sistem, metode, dan ilmu pengetahuan terbarukan.
Kekacauan ini menyebabkan generasi muda merasa sia-sia
menghabiskan 4 tahun di bangku kuliah. Karena pengetahuan yang mereka terima
tidak mampu memberi modal kelak dihadapkan pada kenyataan kehidupan setelahnya.
Seolah, tidak ada bedanya orang-orang yang menyelesaikan bangku akademik dan
orang-orang yang bahkan sama sekali tidak pernah memangku bangku sekolah. Ini
pula yang menyebabkan stigma bahwa kuliah sama sekali tidak berpengaruh
terhadap kesuksesan seseorang.
Kita sadar betul bahwa perkembangan zaman semakin berubah
dan maju. Tentu kita tidak ingin gagap dan gugup dihadapan globalisasi. Kita
musti berani menghadapi situasi ini. Dengan kepercayaan diri yang kuat kita
berani mengatakan, bahwa kita akan menaklukan zaman ini dengan kapasitas dan
bakat kita masing-masing.
Setidaknya, ada beberapa langkah yang musti kita lakukan
demi menyelamatkan hidup kita di era hari ini.
Pertama, jangan ketergantungan pada gen-A. Lepaskan jeratan kita terhadap "old system". Jadilah generasi mandiri, dengan apa yang kita bisa lakukan, sesuai dengan bakat dan kemampuan kita masing-masing. Old system tidak akan bisa mengantar kita pada kesuksesan di era sekarang. Hanya akan membuat kita tertinggal, gagap dan gugup. Kita musti bisa menciptakan system terbarukan, yang sesuai dengan situasi dan zaman hari ini. Bagaimana caranya ?
Kedua, jangan ketergatungan dengan referensi di dalam kelas.
Cari referensi ilmu pengetahuan terbarukan. Lampaui dosen-dosen. Kalau bisa
ajari mereka, jika mereka masih menggunakan referensi 20 tahun kebelakang.
Ketiga, tingkatkan produktifitas. Lakukan hal-hal yang sekrinya
akan memberikan manfaat kepada kita. Tinggalkan hal-hal yang sama sekali tidak
memberikan keuntungan apapun kepada kita.
Dan yang terakhir jadilah generasi mandiri. Yang bisa melakukan
hal-hal tanpa perlu mengandalkan orang lain. Kita sedang berada pada situasi yang
serba mudah. Tanpa alasan apapun, kita bisa melakukan apapun.
Setidaknya, instrumen diatas bisa menanggulangi
kebingungan-kebingungan para sarjana yang mengalami inflasi kelulusan.
Perusahaan sudah tidak membutuhkan pekerja lagi. Semuanya sudah robotisasi,
digitalisasi, automasi, serba mesin. Manusia sudah tidak dibutuhkan lagi. Biar
tidak sekadar huru-hara pasca dipasangnya toga di kepala, persiapkan juga diri
akan fakta kehidupan yang senyata-nyatanya.


0 Komentar