DIKSI - Satu setengah tahun berlalu, sesudah momen pengumuman calon yang tidak disepakati oleh mahasiswa lainnya dengan alasan tidak ada Surat Keputusan (SK) yang formal, kongres kembali sepi bahkan mati suri.
Banyak drama ketika kekosongan ini, karena Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pun harus berganti kepemimpinan. Dramanya beragam, katanya ada kepentingan pribadi, kepentingan kelompok. Tapi bahagianya, proses musyawarah tetap berjalan lancar.
Katanya, sudah dipastikan acara konglub akan terlaksana Sudah disepakati juga oleh pihak akademik. Maka, bisa diekspetasikan konglub kali ini matang.
Sayangnya, berita itu belum rata didengar oleh mahasiswa STAI Persis Bandung, sosialisasinya seperti tidak serius, setengah-setengah dalam memberi kepenasaran dan kemenarikan informasi. Ada yang mendengar merasa hal ini sangat mendadak.
Padahal, ini acara yang ditunggu-tunggu agar tidak sebatas euforia. Akan terpilihnya pemimpin yang bisa mengisi warna lagi di kampus peradaban. Entah dari sisi mana, apakah panitia yang tidak serius atau mahasiswa yang memang apatis dan minim literasi.
Atau bisa jadi ada kemungkinan dari panitia hanya mengangguk saja dan tidak ada inisiatif, karena ada penunggang dibelakang mereka, ada kepentingan dibalik kerja yang kurang optimal, ada yang memonitoring. Maka dari itu, mereka kebingungan mengekpresikan informasi.
Seperti drama di Musyawarah HMJ, banyak isu tentang kepentingan dari beberapa pihak. Bahkan sampai yang hadir di musyawarah pun tidak mewakili suara.
Mahasiswanya hanya angguk-angguk, acuh tak acuh karena hanya bisa diam dibelakang satu golongan atau pergi dengan urusan sendiri. Jadi kongres ini acara yang dadakan ini, benarkah penting atau hanya ada kepentingan?
(AAP)


0 Komentar