Social Media

"Pengabdian ? Pencitraan?"

Tri darma perguruan tinggi merupakan salah satu pegangan bagi setiap perguruan tinggi. Telah menjadi hal lumrah ketika membicarakan Tri Darma Perguruan Tinggi yang didalamnya berupa Pendidikan, penelitian dan pengabdian. 

Dalam ranah pendidikan kita sebagai mahasiswa belajar di kelas, kampus dan organisasi bagaimana agar supaya pembelajaran dilingkungan kampus bisa dapat dipahami bagi setiap mahasiswa. dalam ranah penelitian kita sebagai mahasiswa melakukan sebuah survey atau observasi permasalahan - permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. entah itu dalam lingkungan kampus ataupun lingkungan masyarakat. dalam ranah pengabdian kita sebagai mahasiswa mengaktualisasikan apa yang telah kita pelajari dan apa yang telah kita observasi. supaya bagaimana nantinya setiap mahasiswa itu memenuhi landasan daripada peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri, yang mana telah tercantum bahwa peran dan fungsi mahasiswa itu ialah :

1. Agent of change

2. sosial of control

3. moral of force

4. iron of stock

5. guardian of value

Telah kita ketahui sepenuhnya bahwasannya pengabdian itu bukanlah hanya sekedar pencitraan. Ada ilmu yang ditanamkan pada masyarakat dan ada ilmu yang bisa dituai dari mahasiswa untuk masyarakat. supaya bagaimana nantinya setiap pendidikan dan penelitian ini bisa memajukan masyarakat atau desa yang tertinggal. untuk itulah mengapa setiap adanya program kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu berada dalam lingkungan penduduk yang tertinggal. 

Namun, pada hari ini adanya sebuah disorientasi bagi para mahasiswa yang sedang melaksanakan program kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN disini sering disalah artikan oleh mahasiswa yang mana seharusnya KKN ini sebagai pengabdian, dalam artian membimbing atau memberikan sebuah ilmu yang telah didapatkan dikampus untuk masyarakat setempat. namun sekarang justru sebaliknya, mahasiswa sebagai agent of change, mahasiswa sebagai social of control, mahasiswa sebagai moral of force, mahasiswa sebagai guardian of value dan mahasiswa sebagai iron of stock yang seharusnya menjadi konseptor daripada kemajuan peradaban malah menjadi seorang teknisi dalam artian teknisi disini, mahasiswa tidak menanamkan ilmunya kepada masyarakat. namun ironinya mahasiswa menjadi sebuah penggiat dari pada masyarakat. 

Lantas bilamana mahasiswa ini sebagai penggiat daripada masyarakat, apa yang bisa di tuai oleh masyarakat ketika mahasiswa telah selesai menjalankan sebuah program kegiatan KKN ? tidak ada tentunya. mengapa demikian karena kesalahan orientasi mahasiswa ketika menjalankan atau memahami apa itu pengabdian. 

Bisa dikatakan mahasiswa yang menjadi seorang teknisi dikarenakan tidak siap menjadi mahasiswa akhir semester dan tidak bisa memenuhi sebuah esensi daripada fungsi dan peran mahasiswa sebagai perubahan serta memajukan peradaban yang tertinggal. seharusnya mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan KKN memahami bagaimana cara melakukan penelitian dengan bebebrapa metode. sehingga tidak sedang melaksanakan sebuah pencitraan ataupun PPL. 

Ketidak pahaman mahasiswa pada buku pedoman KKN membuat mahasiswa melakukan kesalahan yang fatal ketika melaksanakan sebuah kegiatan dalam ruanglingkup Program KKN. yang pada akhirnya mahasiswa hanyalah menjalankan sebuah program pencitraan dimana harus menjaga nama baik almamater kampus menjaga nama baik identitas diri sebagai mahasiswa.


"Kamcoy D Escritor"

Posting Komentar

0 Komentar