Social Media

Sejarah yang Hilang, Akankah Terulang?

 

Ilustrasi: RF

Dalam sejarah kampus STAI Persis Bandung, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) itu selalu menjadi sorotan utama dalam ranah pengkajian keilmuan ataupun dalam ranah kekeluargaannya. Meskipun jurusan KPI memiliki jumlah mahasiswa yang paling sedikit diantara jurusan-jurusan yang ada di kampus STAI Persis Bandung, tapi mahasiswanya mampu bersaing dalam segi keilmuan dengan jurusan yang ada di kampus itu sendiri. Mahasiswa KPI dulunya tidak ingin dipandang rendah sama jurusan yang lain dengan jumlahnya yang sedikit, Sehingga mahasiwanya membuktikan bahwa jumlah tidak menentukan seberapa bagus hasil yang dicapai, bahkan dengan sedikitnya jumlah mahasiswa KPI itu sendiri dia juga mampu bersaing bahkan dalam tingkat nasional.

Dilansir dari lembaga pers mahasiswa DIKSI, bahwa program kerja HMJ KPI dalam devisi PI nya pun menciptakan dua plening kerja yaitu jangka panjang dan jangka pendek. kegiatan diskusi, membedah buku, dan mengkajinya dalam program 'Efek Maca' sebagai program jangka panjang, sedangkan forum kajian terbuka yang membahas perihal isu-isu terhangat masuk ke dalam program jangka pendek. Kemudian Litbang HMJ KPI pernah mengadakan talkshow jurnalistik pematerinya adalah Zhian M. Nasyith seorang wartawan umum Galamedia, acara ini digelar untuk para mahasiswa khususnya anak KPI supaya mengenal sekaligus belajar dunia jurnalistik.

Mahasiswa KPI dulu selalu ikut andil dalam demo yang ada didalam maupun luar kampus, sehingga Nurdin Qusyaeri sebagai Kaprodi KPI sendiri mengatakan itu adalah potensi tapi disisi lain juga memang ada yang harus diperbaiki, dan saya bisa memperbaiki jika mahasiswanya kedepannya bisa berbarengan karena saya memiliki tujuan untuk memajukan kelompok KPI yang memiliki potensi ini dan juga untuk kemajuan KPI. Kemudian Mahasiswa KPI angkatan 15 menerbitkan buku catatan semasa kuliah dan film Home The Power Of Friendship di Gebyar 30 September komunikasi dan penyiaran islam (G30S-KPI) tujuan adanya kegiatan ini untuk menyampaikan karya-karya KPI angkatan 15 dan ingin memberi contoh untuk adik semester bahwa membuat karya itu sangat sangat mudah.

Kenyataannya yang kita liat pada hari ini. Mahasiswa KPI yang Jumlahnya semakin bertambah kini kian sirna, baik dalam kajian keilmuan, kekeluargaannya ataupun kajian untuk menambahkan skill Jurusan seperti jurnalistik, photography, public speaking dan boardcasting itu seolah-olah menghilang ditelan waktu. padahal telah diketahui bahwa setiap pengurus dari bidangnya mempunyai agenda kegiatan yang telah dimusyawarahkan. Apakah Musyawarah Kerja (Musyker) itu hanya sebatas formalitas bela, atau hanya sekedar merencanakan kegiatan HMJ KPI itu sendiri kedepannya tanpa pengaplikasian dari musyker itu sendiri.

Peran Mahasiswa di Luar Tasykil HMJ KPI atau masyarakat KPI yang seharusnya mengawal setiap gerakan organisasi, setiap kebijakan yang ada di HMJ KPI itu sendiri, juga kepekaan serta unsur kekeluargaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat KPI yang menjadi ciri khas telah hilang. Apakah dikaranakan para pengurus tidak lagi peduli dengan bidang-bidang yang diamanahkan kepadanya dengan program-program kerja yang telah ditetapkan, atau pemimpinnya tidak mengakomodir kegiatan-kegiatan dari program kerja dari setiap bidang-bidang yang telah ditetapkan? Harusnya setelah melaksanakan musyawarah kerja pemimpin itu mengakomodir setiap program kerja dari setiap pengurus yang telah ditentukan, sehingga program kerja dari setiap pengurus akan terealisasikan dengan bagus atau goals.

Sungguh sangat disayangkan apabila setiap program kerja dari pengurus HMJ jika tidak terealisasikan dengan baik. Karena nantinya akan menghambat perkembangan dari mahasiswa KPI itu sendiri. jangan sampai setiap mahasiswa kpi menjadi mahasiswa yang apatis dan jadi mahasiswa yang tidak peduli akan isu yang bergelimpangan dimasyarakat, menghilangkan unsur serta merosotnya keilmuan yang menonjol dari jurusan KPI itu sendiri. Dan seharusnya mahasiswa KPI yang menjadi tombak perjuangan peradaban islam dengan dakwah serta tulisannya. namun apa daya bila mana setiap kinerja dari pada organisasi sendiripun tidak dijalankan sebagai mestinya. pada akhirnya semua yang di harapkan akan menjadi hal yang utopis. dan sejarah bahwa KPI “harga mati” hanyalah menjadi nostalgia romantic. (DD)

Posting Komentar

0 Komentar