![]() |
| Yadin Burhanudin, Dosen STAI Persis Bandung. |
Pria kelahiran 5 Juni 1975 ini bercerita, dirinya termotivasi menjadi wartawan awalnya karena senang menulis artikel. “Dari menulis itu ternyata saya harus mengembangkan diri bukan hanya menulis artikel, tapi juga menulis berita. Makanya saya terjun jadi wartawan.” Katanya saat di wawancarai di Kampus STAI Persis Bandung. Rabu (01/05).
Pertama kali menulis tahun 1995, dimuat di salah satu media. Kebiasaan ini terus sampai tahun 1997. “Nah pada 1998 karena merasa dunia saya di jurnalistik, saya gabung ke Majalah Risalah. Menjadi reporter lapangan sampai pernah menjadi Sekretaris Redaksi di majalah tersebut.” Cerita bapak dari Alifa Mustika Qolbi.
Tahun 2001 ada lowongan reporter di radio MQ FM, Yadin mencoba ikut seleksi. Ia diterima bersama 24 pendaftar lain, dan menyingkirkan 250 pendaftar lainnya. “Hanya 25 orang yang diambil, salah satunya saya.” Kata Yadin.
Meski sudah diterima di radio MQ FM, Yadin tak meninggalkan pekerjaan di Majalah Risalah. Majalah itu, katanya, terbit sebulan sekali sehingga ia masih punya banyak waktu untuk bekerja di MQ FM.
Ia pun menggeluti dunia jurnalistik dengan serius. Ia menjalani liputan di Kota Bandung, Kepolisian, dan BUMN.
Tahun 2009 MQ FM mengalami masalah finansial. Ia pun terkena PHK. Kemudian Yadin mencoba masuk beberapa majalah, seperti Majalah Tranformasi, majalah yang diterbitkan oleh forum rektor. Namun ia tidak lama aktif bekerja di majalah itu.
Karena dunia sebelumnya radio, Yadin kembali aktif di dunia jurnalistik radio. Ia keluar masuk sejumlah radio, mulai dari radio El Shinta dan Radio Garuda. “Pernah juga menjadi reporter radio, tapi freelance .” Katanya.
Karena kondisi kesehatan yang menurun, Yadin mengaku tak sanggup lagi bekerja di lapangan. Katanya, menjadi wartawan butuh stamina yang prima. “Sekarang saya fokus mengajar.” Tegasnya.
Wartawan yang pernah meliput di Pemkot Bandung itu fokus mengajar di STAI Persis Bandung. Sekalipun demikian, aktivitas menulis tak pernah ia tinggalkan. Ia terus menulis meski sudah tak menjadi wartawan.
Bakat menulisnya ia salurkan di kampus. Terlebih lagi di tempat mengajarnya ada juga media yang bisa menjadi penyaluran kebiasaan menulis. Tak hanya itu, ia pun mengaku kebiasaan menulisnya disalurkan pula di media sosial. Ia kerap memberikan pandangan tentang berbagai hal di sosial media.
Namun pada tanggal Jum'at 25 Oktober 2019, dosen yang dikenal baik hati dikalangan mahasiswa serta dosen STAIPI Bandung ini meninggal dunia di usia 44 tahun.
Terkhusus bagi kalangan jurnalis, beliau menjadi inspirasi yang menularkan semangat agar terus menulis serta meneruskan perjuangan beliau sebagai aktivis jurnalis.
(AH)


0 Komentar